Jumat, 24 Januari 2020

Habib Ali al-Habsyi

Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani ( 1265-1350 H) dalam Jami’ Karomatil Auliya menulis tentang
Habib Ali :

 ”Setiap orang yang melihat atau mendengar kabar tentangnya pasti sepakat bahwa dia pemilik cinta terbesar terhadap kakeknya Saw di abad ini. Ia habiskan waktunya untuk menyebut, memuji dan bershalawat kepada Nabi Saw. Ia guru untuk pencari ilmu dan petunjuk. Dengannya, negeri dan masyarakat mendapat rahmat dan manfaat."

Masa kecil

 Beliau lahir di Qosam, Hadramawt, hari jum’at 24 syawal 1259 H / 1839 M. Diberi nama Ali oleh
Al-Allamah Sayyid Abdullah bin Husein bin Tohir, mengambil berkah dari nama Imam Ali Kholi’ Qosam ( 527 H/1133 M). Ayahnya (1213 H) adalah Mufti Syafi’iyyah di Makkah sejak tahun 1270-1281 H, menggantikan Syaikh Ahmad Dimyathi. Setelah beliau, jabatan Mufti digantikan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Habib Ali pernah berkata:

 “Ketika berdakwah kepada para petani, ayahku mengajak lima orang muridnya. Sampai di ladang, ayahku berkata kepada murid-muridnya, “Gantikanlah pekerjaan mereka mengolah dan mengairi ladang, supaya mereka bisa ke sini dan aku dapat mendidik mereka.”

Ibunya, Alawiyyah (1240-1309 H) binti Husein bin Ahmad al-Hadi al-Jufri, berasal dari Syibam, Hadramawt, seorang sayyidah shalihah, mengenal dan mengerti hukum Allah dan suka berdakwah. Habib Ali berkata:

 “Ketika ibuku masih hidup, aku tidak merasa memiliki uang. Bahkan aku meyakini bahwa harta dan segala sesuatu yang kumiliki adalah miliknya. Demi Allah, seandainya ibuku menjualku sebagai budak, aku akan mengakuinya dan akan kupenuhi permintaannya.”

 Habib Ali memiliki beberapa saudara: Habib Abdullah, Habib Ahmad, Habib Husain, Habib Syaikh dan Syarifah Aminah.

 Hijrah

 Ketika Habib Ali berusia 7 tahun, ayahnya hijrah ke Mekah bersama tiga anaknya yang telah dewasa; Abdullah, Ahmad dan Husein. Karena mematuhi gurunya, Al-Allamah Sayyid Abdullah bin Husein bin Tohir. Habib Ali sendiri, saat berumur 11 tahun bersama ibunya pindah ke Seiwun, untuk menambah ilmu, sesuai arahan Sayyid Umar bin Hasan bin Abdullah Al Haddad. Dalam perjalanan ke Seiwun; beliau melewati Masileh dan singgah di rumah Al-Allamah Sayyid Abdullah bin Husein bin Tohir. Beliau menggunakan kesempatan itu, untuk menelaah kitab, mengambil ijazah dan ilbas. Di antara hafalan beliau adalah kitab Al-Irsyad dan Alfiyah Ibnu Malik.

 Makkah

 Habib Ali berangkat ke Mekah, ditemani Ahmad Ali Makarim, pada tahun 1276 H atas permintaan ayahnya, dan tinggal disana selama 2 tahun. Ketika itu beliau berusia 17 tahun. Bersama abangnya, Habib Husein dan Habib ‘Alwi al-Seggaf mengkaji kitab Minhaj serta 12 buah syarahnya dan menghafalnya. Selama di Makkah, pergaulan Habib Ali selalu di awasi ayahnya.

Guru-guru, diantaranya:
 *Habib Abu Bakar bin Abdullah Al Attas
(1216 - 1281 H)
Mengenai gurunya ini Habib Ali bercerita:

 "Di perjalanan berhaji, kami singgah di Syihr. Di sana kami berjumpa dengan Habib Abubakar bin Abdullah Al-Attas. Pertama kali bertemu, jantungku hampir saja copot, kulihat beliau diliputi cahaya. Aku sangat senang dan gemas dengan Habib Abubakar. Rasanya ingin kutelan beliau."

 *Habib Abdurrahman bin Muhammad Al Masyhur (1250-1320 H pengarang Bughyatul Mustarsyidin)

 *Habib Idrus bin Umar Al Habsyi (1237 - 1314 H. Musnid Hadramawt, pengarang Iqdul Yawaqit)

 *Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
(1232-1304 H. Mufti Syafii di Makkah)

Dakwah

 Kembali dari Makkah, beliau menjadi Imam, berdakwah, mengajar dan beribadah di Masjid Hanbal, Seiwun.

 Membangun Ribath dan Mesjid

 Usia 37 tahun, beliau membangun Ribath (Pesantren) di Seiwun, dengan nama Riyadh. Ini Ribath pertama yang didirikan di Hadramaut. Habib Ali berkata:

 ”Ribath ini kudirikan dengan niat baik, dan ia menyimpan rahasia yang besar. Ribath ini menyadarkan dan membangunkan mereka yang lalai dan tertidur. Banyak faqih dan alim yang telah dihasilkannya. Ribath ini merubah orang yang tidak mengerti apa-apa menjadi orang yang alim."

 Tahun 1303 H, saat berusia 44 tahun, beliau membangun masjid disamping Ribath, dengan nama yang sama. Semua biaya ditanggung Habib Ali, termasuk biaya santri yang mondok di Ribath. Hadits Kutubus-Sittah dibacakan setiap senin di mesjid ini. Tentangnya Habib Ali menuturkan:

 “Dalam Masjid Riyadh terdapat cahaya, rahasia dan keberkahan Nabi Muhammad SAW”

 Masjid Riyadh di Solo, Indonesia, yang dibangun oleh anak beliau, Alwy, mengambil nama dari sini.

Diantara murid-murid Habib Ali :
 *Anak-anak dan adik beliau
 *Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf (ayah Al-Habib Abdul Qadir Assegaf, Jeddah)
 *Habib Muhammad bin Hadi Assegaf (penulis buku Kisah dan Hikmah-terjemah Habib Novel Al-Idrus) *Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik) *Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri (Pembina Ribath Tarim-ayah Sulthanul Ulama Habib Salim) 
*Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi
( Ampel Qubah, Surabaya)

 Shimtud-Durar

 Usia 68 tahun, beliau mengarang kitab maulid yang diberi nama Shimtud-Durar. Hari Kamis, 26 Shafar 1327 H dan menyempurnakannya pada 12 Rabiul-awwal 1327 H. Kitab maulid yang masyhur dan penuh barokah, hingga kini dibaca di Hadramaut, Haramain, Afrika, Zhofar, Yaman dan Nusantara. Habib Ali menyatakan:

 "Maulidku ini tersebar di tengah-tengah masyarakat, akan mengumpulkan mereka kepada Allah SWT dan akan membuat mereka dicintai Nabi SAW.” 

Anak-anak

 Habib Ali dikaruniai 5 orang anak: Abdullah, Muhammad, Ahmad, Alwi dan Khadijah.

 Wafat

 Dua tahun sebelum wafatnya, penglihatan Habib Ali memburuk sehingga beliau kehilangan penglihatannya.
Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi wafat pada Zhuhur Ahad, 20 Rabi’uts Tsani 1333 H dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Riyadh, Seiwun, Hadramawt.

 Sahabat Habib Ali ketika belajar di Makkah dan berdakwah, Habib Ahmad bin Hasan Al Attas berkata:

 ”Apakah Ali banyak melakukan shalat sunah? Apakah dia tidak tidur malam? Apakah dia mengerjakan sekian ribu dzikir? Tidak! Beliau sangat mencintai Allah SWT, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Mereka yang menarik Habib Ali, sehingga tanpa disadari, ia telah bersama mereka dan mereka berkata:

 “Berbicaralah dengan lisan kami”

 Nasihat dan kata-kata hikmah beliau masih terus dibaca dan disenandungkan, baik dalam kumpulan wasiat, nasihat dan ijazah serta qashidah. Diantaranya:

 *"Wahai saudaraku, berprasangka baiklah kepada Allah swt, wujudkanlah kebenaran janji-Nya, dan rasakanlah kebesaran rahmat-Nya. Cukuplah bagi kita firman Allah swt, seperti disabdakan Rasulullah saw:

 “Aku sesuai prasangka hamba kepadaKu, maka berprasangkalah sesukamu."

 *"Barang siapa yang ingin rezekinya lancar lagi barokah, maka berbuat baiklah kepada kedua-orang tuanya."

 Sumber:

Jami Karamatil Auliya. An-Nabhani. Juz 2 

https://pondoksantrikopihitam.wordpress.com/category/al-arif-billah-al-qutbul-wujud-sayyidinal-habib-ali-bin-muhammad-al-habasyi/ 

http://manzafqir.blogspot.com/2014/01/biografi-dan-manaqib-al-habib-ali-bin.html?m=

https://youtu.be/BbWQ26e4FHU

https://youtu.be/xrUTwxBcrZQ

https://sites.google.com/site/pustakapejaten/manaqib-biografi/habaib/al-habib-ali-bin-muhammad-al-habsyi-seiwun

https://www.sufiz.com/jejak-sufi/habib-ali-bin-muhammad-alhabsyi-tanda-kewalian-yang-muncul-sejak-kecil.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar