Pesan Hasan kepada Husein menjelang wafatnya:
"Khilafah tidak berjalan mulus untuk ayahmu (Ali). Dan sungguh aku menyangka Allah tidak akan mengumpulkan kepada kita -Ahlul Bait- Risalah Kenabian dan Khilafah. Maka aku tak perlu menjelaskan apa yang sudah pasti kau ketahui.."
Masa kecil
Abu Abdillah Husein bin Ali bin Abi Thalib, putra kedua Fatimah binti Rasulillah Saw. Ia dilahirkan di Madinah, 5 Sya’ban 4 H.
Mas’udi menulis: “Husein hidup bersama Rasulullah saw selama tujuh tahun. Rasulullah saw sendiri yang memberikan makan, mengajarinya ilmu dan etika.”
Ciri-ciri fisik dan gelar
Husein mirip dengan Nabi Muhammad. Rambutnya terjuntai sebahu berwarna hitam. Demikin pula janggutnya. Ia pemurah, suka menjamu tamu dan penyayang.
Diantara gelarnya adalah:
Ar-Rasyid
Al-Wafi
As-Sayyid
Adz-Dzaki
Al-Mubarak
Masa muda
Sepeninggal Rasulullah Saw, tiga puluh tahun ia selalu menemani ayahnya menghadapi segala problema dan peperangan.
Ia termasuk penjaga Khalifah Utsman ketika para pendemo mengepung rumahnya.
Ia menyaksikan pembunuhan Ali dan kemudian melaksanakan wasiat ayahnya itu untuk tidak menzhalimi pembunuhnya.
Setelah itu, sepuluh tahun mengawal saudaranya. Ia mengerti tujuan perdamaian yang di pilih Hasan, dan pentingnya keselamatan muslimin meski mengorbankan haknya pada syarat yang diajukan dalam perjanjian.
Ia juga menahan diri terhadap pembunuh kakaknya ini, atas kebijakan Hasan terhadap orang yang meracuninya. Sampai Hasan syahid pada tahun 50 H.
Istri dan keturunan
Husein memiliki beberapa istri dan anak. Tapi keturunannya yang ada sekarang berasal dari Ali bin Husein, yang digelar Zainal Abidin. Ibunya bernama Syahzanan atau Syahrbanu, putri Yazdigird, kaisar terakhir Sasaniyah, Persia. Oleh karena itu, Ali Zainal Abidin dijuluki pula Ibnul-Khiratain, anak dari dua yang terbaik, Arab-Quraisy dan Persia.
Wasiat Nabi tentang Husein
“Husain dariku dan aku dari Husain, Allah mencintai orang yang mencintai Husain dan Husain adalah cucuku”
"Anakku akan di bunuh di suatu tempat bernama Karbala. Siapa yang menyaksikannya maka tolonglah ia"
Kehormatan Haramain
Apa yang terjadi terhadap Hasan, ditambah perjanjian yang di buat kakaknya telah dilanggar, mendorong Husein untuk mengambil sikap. Menolak membaiat Yazid. Dalam hal ini Husein tidak sendiri. Bersamanya ada Abdullah bin Umar, Abdurrahman bin Abu Bakr, Abdullah bin Zubair dan banyak lagi.
Husein yakin, cepat atau lambat dirinya tetap dibunuh. Ia meninggalkan Madinah menuju Makkah. Ketika di Makkah ia menerima surat dari penduduk Kuffah yang menyatakan siap membaiatnya, bila ia mau datang. Ini diperkuat kabar dari Muslim bin Aqil bin Abi Thalib, yang sebelumnya diutus Husein, tentang kebenaran pernyataan penduduk Kuffah.
Disatu sisi, Husein mendapat tekanan dari penguasa Makkah untuk membaiat Yazid. Ini semakin menambah kuat tekadnya.
Banyak sahabat Nabi yang mencegah niat Husein. Ia hanya menegaskan,
"Lebih baik keluar dari Tanah Haram, meski sejengkal, daripada aku terbunuh didalamnya. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:
"Kehormatan Tanah Haram akan dilecehkan sebab seseorang"
Aku tidak ingin menjadi orang tersebut."
Ini terjadi. Tiga hari Madinah dikuasai pasukan Yazid. Mereka memasuki Mesjid Nabawi dengan berkuda dan menginjak-injak mimbar mulia.
Selama 64 hari Makkah dikepung dan Kabah beserta isinya terbakar sebab bom Manjaniq.
Antara musuh dan pecinta
Mengetahui posisinya, Yazid memecat Gubernur Kuffah dan membunuh Muslim bin Aqil. Dua belas ribu pembaiat Husein ketakutan. Muslim sempat mengirim pesan kepada Husein untuk membatalkan niatnya. Husein tetap maju bersama tujuh puluh keluarganya menyambut syahid yang sudah dinubuwwatkan Kakeknya.
Wafat
Sampai di Karbala, Husein di kepung dua puluh ribu pasukan Yazid. Ia sempat menanyakan nama daerah itu. Mendengarnya, Husein berkata:
"Rasulullah Saw benar. Inilah tempat kepayahan (Karb) dan Bala."
Kecuali para wanita dan Ali Zainal Abidin yang ketika itu sakit,
Pada 10 Muharram 61 H Husein dan keluarganya syahid.
إنا لله وإنا إليه راجعون
Kubur
Kepala Husein -konon dengan tubuhnya- dibawa ke Asqolan, Palestina. Saat tentara Salib masuk Palestina, abad 6 H/12 M, pasukan Muslim mengamankannya, dan dibawa ke Mesir. Kepala itu mengeluarkan bau wangi, dan darah masih menetes seakan baru terbunuh. Penguasa mesir menyambutnya bersama para ulama dan tentara. Sampai sekarang mereka mengadakan peringatan masuknya kepala Husein ke Mesir di bulan Rabiuts-Tsani.
Sumber:
At-Talid Wath-Tharif.
As-Sayyid Dr. Abu Bakr Adni Al-Masyhur.
https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/tragedi-karbala-kematian-husein-bin-ali-dan-terbelahnya-islam-c4SD
https://youtu.be/rAeAW5dXSPs
https://youtu.be/jiDDzGlCBHY
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Husain_bin_Ali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar